Kalimat Bijak Yang Berbunyi ‘ENTREPRENEUR’
“Entrepreneur itu sejenis makanan baru yah?” Itu suatu kalimat yang pernah saya ucapkan (secara bercanda tentunya) kepada orang yang mengajak saya untuk memulai membangun bisnis waktu itu. Kata ENTREPRENEUR sendiri merupakan kata yang benar-benar asing di telinga saya 2 tahun sebelumnya. Maklumlah waktu itu saya masih bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta sebagai ‘Manager Accounting’. Kehidupan saya sangat monoton, diawali dengan bangun pagi, pergi ke kantor (jarak dari rumah ke kantor sangat jauh), kerja dari pagi sampai sore, pulang ke rumah (kalau saya tidak pergi ke coffee shop untuk hang out dengan teman). Jangan sampai dilupakan kadang kala saya juga dapat “Bonus” dari atasan. Dari Senin sampai Jumat saya sudah seperti robot. Hari yang saya tunggu itu pasti hari Sabtu dan Minggu dimana saya bisa bersosialisasi dengan teman alias ‘CLUBBING’ dan yang paling ditunggu-tunggu (oleh semua karyawan) adalah GAJIAN. Itulah nasib kebanyakan karyawan.
Sampai akhirnya saya diperkenalkan dgn kata ‘ENTREPRENEUR’. Awalnya saya juga tidak mengerti apa yang harus saya lakukan untuk menjadi Pengusaha. Seorang teman saya berkata pertama-tama yang harus dilakukan adalah mengubah STRUKTUR BERPIKIR. Waktu itu saya langsung naik darah apa yang salah dengan struktur berpikir saya? Lalu saya diberi satu buku Best Seller “Rich Dad Poor Dad“ karangan Rober T Kiyosaki dimana di dalam buku itu dijelaskan bahwa kita harus pindah kuadran dari kuadran Employee (karyawan) ke Business Owner (Pengusaha). Di situ jelas sekali dituliskan bahwa kita harus mengubah struktur berpikir dari karyawan menjadi struktur berpikir seorang pengusaha. Memang mudah dibicarakan tapi sulit sekali untuk dilakukan, terutama oleh orang yang sudah terbentuk ‘MINDSET’nya sebagai karyawan, dimana kita sudah terbiasa untuk diperintahkan oleh atasan kita baru jalan. Sedangkan Pengusaha harus mempunyai kemampuan untuk memimpin diri sendiri karena atasan kita adalah diri kita sendiri. Manusia membutuhkan waktu untuk bisa berubah. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berubah? Jawabannya adalah selama manusia itu hidup selama manusia itu mau belajar berubah. Di dalam merubah diri, kita membutuhkan orang lain atau lingkungan pendukung yang mendorong kita berubah kearah yang kita inginkan.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca satu artikel di Warta Ekonomi dengan judul ‘Solusi Jitu Buat Calon Entrepreneur’ . Di dalam artikel itu dibahas mengenai bisnis MLM bisa menjadi salah satu alternative pembelajaran orang menjadi entrepreneur. Biasanya orang yang mengambil bisnis MLM sebagai usahanya dikarenakan beberapa alasan, diantaranya adalah soal dana dan waktu. Kalau soal dana tidak bisa dipungkiri karena dengan bergabung pada salah satu perusahaan MLM para pengusaha pemula bisa menjalankan usahanya dengan modal yang relative kecil. Saya tidak mengatakan tidak perlu modal, karena bisnis apapun harus ada modal. Dan banyak saya jumpai di masyarakat yang mengatakan ikut MLM A atau MLM B tidak perlu jualan atau Selling hanya merekruit anggota atau bisa disebut money game. Saya rasa itu pembohongan besar karena mana ada bisnis yang tidak menjual, bagaimana bisnis itu bisa menghasilkan kalau tidak menjual produk/jasa. Kalau soal waktu biasanya orang memilih MLM karena bisa dikerjakan paruh waktu. Menjadi Pengusaha bukan hanya dilihat dari bagaimana kita mendirikan bisnis tapi bagaimana menghadapi masa-masa sulit dan mempertahankan bisnis kita.
Dalam GKM INTERNATIONAL BUSINESS SCHOOL kita diajarkan bagaimana menjadi pengusaha. Karena di SEKOLAH BISNIS INI, kurikulumnya berbasis kompetensi, jadi selain ada materi kelas yang berkesinambungan, dimana kita meningkatkan kemampuan kognitif kita, setelah itu kita pun diajarkan bagaimana MEMBANGUN PERUSAHAAN kita sendiri yang baik dan benar. Hal-hal inilah yang membuat kita menjadi pengusaha sejati. Banyak sekali contoh yang saya lihat di GKM INTERNATIONAL BUSINESS SCHOOL dimana seseorang bisa berubah menjadi lebih baik karena adanya pendidikan bisnis sekaligus pembangunan karakter dan struktur berpikir. Karena di sinilah kita bisa menggali potensi yang sebetulnya ada di dalam diri kita tapi karena ketidaktahuan kita potensi itu terkubur dalam-dalam.
Sekarang pertanyaannya adalah maukah kita belajar untuk menjadi pengusaha? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing. Karena walaupun kita mempunyai sistim pendidikan yang terbaik di seluruh duniapun kalau dari diri sendiri tidak mau belajar maka semuanya adalah sia-sia.
Renny KD, SE, Mahasiswa GKM IBS, email : eny_ope@gkmibs.com