Selamat Datang Di Dunia Wirausaha
Jakarta, 28 Januari 2007
Ketika seseorang mendengar kata “Bisnis”, maka apakah kira-kira tanggapan atau bayangan yang akan muncul di benaknya? Ada yang membayangkan bahwa berbisnis itu sulit, bukan bakatnya, apalagi dalam kondisi sekarang. Ada yang membayangkan bahwa berbisnis itu bukanlah suatu pekerjaan yang aman, karena tidak ada pendapatan yang tetap. Ada juga yang tidak terbayangkan karena bingung harus memulai dari mana dan masih banyak lagi tanggapan-tanggapan spontan lainnya.
Sekarang ini sudah beribu-ribu majalah dan buku-buku yang berisi strategi bisnis dan kisah kesuksesan para pengusaha yang spektakuler dimana banyak diantara mereka yang berhasil mencapai kekayaan milyaran dollar pada usia yang relatif sangat muda. Misalkan, nama-nama seperti Billgates ( Microsoft ), Eric Schmidt ( Google ), Chad Hurley dan Steve Chen ( You Tube ), Robin Li ( Baidu ), dan masih banyak yang lainnya. Beberapa diantara mereka bukanlah seorang yang memiliki pendidikan formal yang sangat tinggi, tetapi mereka punya kesamaan, yaitu : mempunyai keberanian, visi dan intuisi yang tinggi.
Saudara-saudara, menjadi pengusaha sangatlah menantang dan memilki kenikmatan tersendiri. Untuk menjadi seorang pengusaha sukses yang dibutuhkan bukanlah bakat, modal besar, atau pendidikan formal, yang seringkali menjadi bayangan dalam diri seseorang. Tetapi sebenarnya modalnya sangat sederhana, dan setiap orang memilikinya di dalam diri masing-masing, yaitu : keberanian dan hasrat yang kuat untuk berani memulai. Untuk mulai menjadi pengusaha, memang dibutuhkan apa yang kita sebut ‘supporting enviroment’ ( lingkungan pendukung ). Dalam bahasa inggris akhiran ‘ing’ menunjukan sebuah pekerjaan yang sedang dilakukan, maksud dari kalimat ‘supporting enviroment’, adalah sebuah komunitas yang secara terus menerus memberikan dukungan kepada kita untuk tetap fokus dan konsisten membangun usaha serta meningkatkan kapasitas diri atau perusahaan. Nah, seringkali inilah hal yang sangat sederhana, tetapi sering terabaikan dan tidak dibangun sejak awal oleh seseorang yang sedang membangun usahanya.
Di dalam bidang ekonomi ada istilah ‘Intagible assets’ dan ‘Tangible assets’. Intangible assets artinya kekayaan / hal–hal yang tidak terlihat,seperti : keberanian, kejujuran, kepercayaan, hasrat, intelektual, semangat, jaringan / relasi, dan lain-lain. Sedangkan Tangible assets artinya kekayaan / hal-hal yang dapat dilihat, seperti : uang, tempat usaha, barang / produk, dan lain-lain. Dari hal-hal yang dijabarkan diatas, menurut anda, mana yang harus dimiliki lebih banyak oleh seorang pengusaha atau calon pengusaha ? sudah jelas jawabannya, yaitu ‘Intangible assets’ dimana didalam diri kita sebenarnya sudah ada, hanya mungkin beberapa diantara kita belum menyadarinya atau mungkin belum mengerti kalau sudah memilikinya.
Beberapa faktor yang sudah dijabarkan diatas dapat dijadikan sebagai sebuah informasi yang mampu menginspirasi para pembaca sekalian bahwa untuk memulai sebuah profesi yang kita sebut ‘wirausaha’ tidaklah dibutuhkan sesuatu yang terlalu mahal, atau sesuatu yang terlalu besar sehingga tidak banyak orang yang mampu melakukannya, sekali lagi bukan itu. Tetapi yang dibutuhkan hanyalah sebuah hal yang sederhana, setiap orang memiliki dan dapat dikembangkan, yaitu keinginan untuk meningkatkan kapasitas diri ( aktualisasi diri ) dan keberanian untuk memulai ! Selamat datang di dunia wirausaha.