’Webometrics’ Universitas se Dunia

Baru-baru ini sebuah badan internasional telah mengumumkan daftar universitas terbaik di dunia menurut pemakaian teknologi informasi internet dalam “top 3.000 Universities in The World”. Karena untuk menentukan ranking tersebut didasarkan pada aksesabilitas internet oleh universitas yang bersangkutan dalam berkomunikasi akademis melalui web (website), maka peringkat universitas terbaik di dunia tersebut dinamakan “Webometrics Ranking of World Universities”. Meskipun 3.000 bukan angka yang kecil, tetapi kalau kita perhatikan ternyata yang berhasil “dijerat” dalam daftar tersebut tetap saja universitas yang tidak asing lagi namanya bagi masyarakat internasional; katakanlah seperti Harvard University di Amerika Serikat (AS), University of Toronto di Kanada, University of Edinburg di Inggris, Free University of Berlin di Jerman, Universite de Geneve di Swiss, Tokyo University di Jepang, National University of Singapore (NUS) di Singapura, Australian National University (ANU) di Australia, dan sebagainya. Bagaimanakah dengan universitas di Indonesia? Setelah dibolak-balik sampai ranking ke-250 ternyata tidak satu pun universitas kita yang berhasil “nongkrong” dalam daftar. Tidak untuk UGM Yogyakarta, tidak untuk UI Jakarta, tidak untuk ITB Bandung, dan tidak pula untuk semua PTN dan PTS yang di dalam negeri sering dibanggakan bonafiditasnya. Kesenjangan Akademis Kalau kita cermati secara teliti, dari daftar universitas, terbaik di dunia tersebut ternyata ada hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu dominannya AS. Dari sebanyak 50 universitas terbaik yang menduduki ranking ke-1 s/d ke-50 ternyata 45 di antaranya universitas yang berkiprah di AS; dan hanya lima saja universitas non AS, yaitu University of Cambridge (UK) ranking ke-19, University of Oxford (UK) ke-21, University of Toronto (Canada) ke-32 Swiss Federal Institute of Technology Zurich (Switzerland) ke-37, dan University of Edinburg (UK) ke-44. Apakah artinya semua itu? Artinya adalah sivitas akademika universitas di AS, dalam hal ini dosen dan mahasiswanya, sudah sangat familiar dengan internet dalam proses belajar mengajarnya. Mereka tidak saja menggunakan jasa internet untuk keperluan formal seperti surat menyurat antarlembaga atau pertukaran informasi lainnya akan tetapi sudah menggunakan internet untuk keperluan pembelajaran (e-learning). Bukan itu saja, sekarang ini banyak kelas, program studi, jurusan, dan fakultas di AS yang menyelenggarakan pembelajaran didasarkan pada informasi yang didapat dari internet, Learning Based Internet Information atau yang sering disingkat dengan LBII. Pembelajaran model ini memang memerlukan kesiapan siapa saja yang terlibat; mereka harus memiliki bekal informasi yang luas dan kemampuan analisis yang memadai, di samping dosen yang profesional. Kalau ini terpenuhi maka hasilnya luar biasa; dan AS ternyata mampu memenuhinya. Familiaritas sivitas akademika universitas di AS, sebagaimana dengan design studi Webomerics, antara lain ditunjukkan dengan sejauh mana mereka melakukan komunikasi akademis melalui berbagai situs yang ada yang di dalam studi ini adalah Google, Yahoo, MSN, dan Teoma. Mereka terbukti telah memanfaatkannya dengan baik dan lebih baik daripada dosen dan mahasiswa universitas non AS pada umumnya. Pemanfaatan internet secara baik oleh dosen dan mahasiswa universitas di AS tersebut tentu saja sangat positif dalam kaitannya membentuk kinerja universitas di AS itu sendiri; namun di sisi lain hal itu telah menyebabkan kesenjangan akademis yang semakin menganga di antara universitas AS dengan non AS. Ibaratnya para mahasiswa AS dengan lari dapat memetik pengetahuan apa saja yang ada di depannya, sementara mahasiswa non AS hanya dapat memandang kesempatan seperti itu, bahkan ada yang tidak tahu dengan kesempatan yang ada di depannya. Masih Konvensional Bagaimanakah dengan universitas-universitas di Indonesia? Kalau kita telusuri sampai dengan ranking ke-250 tidak satu pun universitas kita ada di dalamnya. Hal itu menunjukkan bahwa dosen dan mahasiswa kita tidak akrab dengan internet dalam mengembangkan kemampuan akademisnya. Secara umum universitas kita masih konvensional, belum memanfaatkan teknologi informasi untuk memantapkan kinerjanya. Di sisi lain dalam daftar 250 universitas terbaik dunia terdapat beberapa nama dari negara berkembang; katakanlah University Nacional Autonoma de Mexico (Mexico) di ranking ke-110, Hebrew University of Jerusalem (Israel) ke-145, University Complutense Madrid (Spain) ke-147, Beijing University (Cina) ke-206, University of Chile (Chile) ke-230, Chinese University of Hongkong (Hongkong) ke-238, dsb. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat aksesabilitas dan familiaritas dosen dan mahasiswa Indonesia terhadap internet jauh lebih rendah daripada dosen dan mahasiswa di negara berkembang pada umumnya. Keadaan tersebut di atas sudah barang tentu sangat memprihatinkan kita semua. Kalau pun toh kita harus kalah dalam berteknologi informasi dari negara-negara informasi (information countries) seperti AS kiranya dapatlah dimaklumi, meski dengan berat hati, namun kalau kita harus kalah dengan negara-negara berkembang lainnya seperti Mexico, Spanyol, Chili, dsb, rasanya memang sangat sulit untuk dimengerti. Mengejar AS dalam waktu singkat jelas tak mungkin. Agar UI Jakarta menyamai Harvard University, UGM Yogyakarta menyamai University of California Berkeley, ITB Bandung menyamai Massachusetts Institute of Technology, dsb, diperlukan waktu belasan bahkan puluhan tahun. Untuk dapat menyamai universitas di AS yang sangat familiar dengan teknologi informasi tidak saja semangat yang diperlukan, akan tetapi perlu dukungan dana untuk membangun infrastruktur lembaga serta kesadaran untuk mewujudkan suprastrukturnya. Meskipun demikian kita tidak boleh patah semangat kalau kesenjangan akademis yang terjadi tidak ingin lebih menganga lagi. Caranya sederhana meski perlu waktu, yaitu segera merealisasi pembelajaran didasarkan pada informasi yang diperoleh dari internet. Nah…, bagaimana GKM IBS menurut anda ??

oleh : Prof Dr Ki Supriyoko MPd, Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private Organization (PAPE) bermarkas di Tokyo, Jepang

 Sumber: Kedaulatan Rakyat

2 Responses to “’Webometrics’ Universitas se Dunia”

  1. sarif Says:

    Mengamati pemanfaatan layanan internet dalam pendidikan di Indonesia memang menarik. Fakta yang saya dapatkan sebagai mahasiswa Fakultas teknik, UGM Yogyakarta adalah sekarang ini tren laptop masuk ke kampus sudah mulai, dan yang sering saya lihat banyak sekali mahasiswa fakultas teknik UGM yang memanfaatkan layanan wi-fi gratis di kampus. Sepertinya layanan itu ditujukan agar mahasiswa di lingkungan UGM mulai ‘akrab’ dengan teknologi internet. Namun melihat data survey yang ada di blog ini sepertinya UGM dan universitas2 lain di Indonesia harus lebih gencar lagi memanfaatkan layanan tersebut.
    Dalam hal ini GKM IBS sudah mulai terlebih dahulu mengajari siswa-siswanya bagaimana memanfaatkan internet untuk kepentingan kegiatan belajar-mengajar. Sesuatu yang berbeda bisa saya rasakan dalam sistem pendidikan disini. Di jurusan saya,beberapa dosen memang sudah mulai mengajak mahasiswanya untuk menggunakan media internet,tetapi itupun baru sebatas menggunakan email sebagai media untuk mentransfer materi kuliah. forum diskusi seperti di GKM IBS belum saya dapatkan dari komunitas saya di fakultas teknik UGM. Saya pikir, memang GKM IBS bisa jadi pelopor untuk sistem pendidikan online di Indonesia. Dan saya harap dalam waktu dekat ini nama GKM IBS akan muncul di survey semacam ini lagi, menjadi pelopor dan pendorong untuk lembaga pendidikan yang lain di Indonesia.

  2. paul Says:

    sebuah sarana pendidikan yang baik, harus berjalan beriring antara pengajar dengan murid, tidak akan berjalan dengan baik apabila hanya salah satu yang berkembang terus.

    pengajar yang kompeten sangat menentukan sebuah pengajaran yang dilakukannya, walaupun ada dosen yang lulusan dari luar negeri tapi tanpa pembekalan yang benar mengenai “bagaimana mengajar yang baik”, tentunya sangat sulit bagi sebuah universitas sekelas apapun untuk bisa naik pamornya ke rating yang lebih baik lagi, apalagi menyaingi yang sudah sangat mementingkan yang namanya informasi.

    pembangunan infrastruktur yang ada di Indonesia juga sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan di Indonesia. apalagi beberapa waktu dana dari negara kita banyak tersedot untuk membiayai bencana2 yang sedang terjadi di Indonesia.

    GKMIBS, merupakan pioner yang siap memulai mengajarkan mengenai pentingnya informasi dan kompetensi dari seorang pengusaha yang memiliki basis pendidikan yang di setarakan, sehingga ketika “mengajarkan ” sesuatu hal mengenai usaha yang di kerjakan berdasarkan studi mengenai kasus2 yang pernah dilakukan.
    ke depan GKMIBS akan terus berkembang apabila pendukung2 yang sudah ada makin berkompeten.

    sekian, terima kasih….:)

    salam.

Leave a Reply