Archive for the 'Uncategorized' Category

Do You Have A Business Mindset?

Thursday, August 16th, 2007

In order to build the right infrastructure, you must think strategically - that’s having a business mindset. Before you make any decisions in business think about the outcome on all levels; here are seven examples of having a business mindset:

1. Having a business mindset is knowing that the purpose of business is to 
make money.

Sometimes your hobby is just a hobby. Either you’re going to have a hobby that makes you a little extra money or you’re going to have a business that requires a higher level of development in order to acquire a higher level of income.

2. Having a business mindset means thinking for yourself vs letting
other people think for you.

Don’t allow the experts to control your destiny or your dreams, let them help you get there. Take some time to think, document, research your own idea before asking for help - if you do - you will be better equipped to ask for exactly what you want and
getting it.

3. Having a business mindset means being more strategic about your
business activity.
Don’t just go to any networking event or take on any
job; know what results you want before you invest in business activity.

For example, do you know how much it really costs you to attend a
training session or a networking event - Money, family, time,
babysitter, gas, etc? In order to recoup your investment your reasons
for investing in the training must be things other than meeting people
and “I just want to learn something.” Why? That’s a given when you go
to networking (meet people) or training (learn something). Your purpose
for attending any event must be 1 - aligned with your vision and 2 -
focused on profitability. So make sure you have a specific outcome in
mind before investing in business activities like networking and
training.

4. Having a business mindset is knowing that we need to connect with
our businesses and that connection is profitability.

How do you connect with your profitability? By knowing your profit margin, cash flow,
competitive advantage, sales goals, and your key profit indicators. If
you’re not sure what these are, you should consider joining our Free
Telecourse, How to Build Your Small Business Infrastructure.

5. Having a business mindset is understanding strategy and implementing
it into your business practices.

These days we tend to focus on the day-to-day mundane tasks and deadlines, solving short-term problems, and implementing marketing tactics that aren’t a good fit for our
businesses. Strategy concerns itself with what’s ahead, looking at where you’re going and how to get there. Thereby, making you ask the question:”is this task in line with where the company is going and/or where I want it to go?”

6. Having a business mindset is being open to multiple streams of
income and multiple businesses.
I met a lady at a conference a while back, and I will never forget what she told me - “I have one business that’s my passion that makes me a good income and I run it. I have
another business that generates substantial profit for me and I have someone else to run it.” The point: you don’t have to put all your eggs in one basket - that’s part of having a business mindset.

7. Having a business mindset is understanding your emotional ties to
your business.

Understanding the emotional ties to your business will allow you to break through your personal barriers that prevent you from doing what you say you’re going to do and also doing what you want to do. The next time you get emotional in your business jot down what you’re feeling and what triggered it, this is how you begin to recognize which emotions are keeping you from doing good business.

The point is, every business decision you make today affects your
business today, tomorrow, and in the future - so become a good
strategist. :
• A good strategist looks at all facets of their business
today in context of where they are trying to go.
• A good strategist reacts to problems positively instead of negatively.
• A good strategist also welcomes change and turns it into an opportunity.
• A good strategist can react quickly with the unexpected.
• A good strategist has a business mindset.
How about your mindset?

source : Efficio, Inc, The Entrepreneur’s Strategic Partner, USA

Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi tak Optimal Tanpa Dukungan Korporasi

Tuesday, August 14th, 2007

Upaya akselerasi laju pertumbuhan ekonomi dan investasi yang tinggi dan sustainable tidak akan optimal tanpa adanya dukungan dari masyarakat luas khususnya sektor korporasi Indonesia.
 
“Sekeras apapun upaya yang dilakukan pemerintah tidak akan optimal untuk mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi dan investasi yang tinggi dan sustainable tanpa dukungan masyarakat luas, khususnya sektor korporasi Indonesia,” kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam penyerahan Annual Report Awards 2006 di Jakarta, Selasa.
 
Dari dimensi ekonomis, menurut Menkeu, besar-kecilnya kontribusi sektor korporasi dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional akan banyak ditentukan oleh daya entrepreneurship dan kemampuan inovatif pelaku bisnis untuk menransformasi tantangan menjadi peluang.
 
Namun dari sisi responsibilitas sebagai anggota masyarakat, korporasi dituntut pula untuk menunjukkan kepedulian untuk berbuat yang terbaik tidak hanya untuk pemegang saham dan perusahaan, tetapi juga kepada stakeholders lainnya yang mewakili kepentingan bangsa.
 
“Dimensi terakhir inilah yang mendasari lahirnya prinsip-prinsip mulia dari tata kelola yang baik, mulai dari :

  • transparansi
  • akuntabilitas
  • responsibilitas
  • independensi
  • fairness

Penerapan secara konsisten kelima prinsip ideal itu tidak hanya penting untuk perusahaan dan stakeholdernya, namun lebih jauh lagi diperlukan untuk membangun image atau persepsi posisif bangsa ini di mata pelaku bisnis global dan di mata negara-negara lain di dunia,” kata Menkeu.
 
Menurut dia, dalam rangka meningkatkan penerapan good governance, saat ini pemerintah juga tengah melaksanakan Program Reformasi Birokrasi yang bertujuan untuk mendorong kapasitas atau kemampuan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan pelayanan masyarakat secara lebih maksimal.
 
“Pada akhirya hal ini diharapkan akan membangun trust atau kepercayaan publik terhadap birokrasi,” katanya.

Bagaimana pendapat anda mengenai materi kuliah di GKM IBS? apakah sudah sejalan?

Semoga GKM IBS bisa mencetak GENERASI MUDA yg lebih peduli kepada bangsa ini dengan menjadi SOCIAL ENTREPRENEURS.

sumber : investorindonesia.com

’Webometrics’ Universitas se Dunia

Thursday, March 29th, 2007

Baru-baru ini sebuah badan internasional telah mengumumkan daftar universitas terbaik di dunia menurut pemakaian teknologi informasi internet dalam “top 3.000 Universities in The World”. Karena untuk menentukan ranking tersebut didasarkan pada aksesabilitas internet oleh universitas yang bersangkutan dalam berkomunikasi akademis melalui web (website), maka peringkat universitas terbaik di dunia tersebut dinamakan “Webometrics Ranking of World Universities”. Meskipun 3.000 bukan angka yang kecil, tetapi kalau kita perhatikan ternyata yang berhasil “dijerat” dalam daftar tersebut tetap saja universitas yang tidak asing lagi namanya bagi masyarakat internasional; katakanlah seperti Harvard University di Amerika Serikat (AS), University of Toronto di Kanada, University of Edinburg di Inggris, Free University of Berlin di Jerman, Universite de Geneve di Swiss, Tokyo University di Jepang, National University of Singapore (NUS) di Singapura, Australian National University (ANU) di Australia, dan sebagainya. Bagaimanakah dengan universitas di Indonesia? Setelah dibolak-balik sampai ranking ke-250 ternyata tidak satu pun universitas kita yang berhasil “nongkrong” dalam daftar. Tidak untuk UGM Yogyakarta, tidak untuk UI Jakarta, tidak untuk ITB Bandung, dan tidak pula untuk semua PTN dan PTS yang di dalam negeri sering dibanggakan bonafiditasnya. Kesenjangan Akademis Kalau kita cermati secara teliti, dari daftar universitas, terbaik di dunia tersebut ternyata ada hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu dominannya AS. Dari sebanyak 50 universitas terbaik yang menduduki ranking ke-1 s/d ke-50 ternyata 45 di antaranya universitas yang berkiprah di AS; dan hanya lima saja universitas non AS, yaitu University of Cambridge (UK) ranking ke-19, University of Oxford (UK) ke-21, University of Toronto (Canada) ke-32 Swiss Federal Institute of Technology Zurich (Switzerland) ke-37, dan University of Edinburg (UK) ke-44. Apakah artinya semua itu? Artinya adalah sivitas akademika universitas di AS, dalam hal ini dosen dan mahasiswanya, sudah sangat familiar dengan internet dalam proses belajar mengajarnya. Mereka tidak saja menggunakan jasa internet untuk keperluan formal seperti surat menyurat antarlembaga atau pertukaran informasi lainnya akan tetapi sudah menggunakan internet untuk keperluan pembelajaran (e-learning). Bukan itu saja, sekarang ini banyak kelas, program studi, jurusan, dan fakultas di AS yang menyelenggarakan pembelajaran didasarkan pada informasi yang didapat dari internet, Learning Based Internet Information atau yang sering disingkat dengan LBII. Pembelajaran model ini memang memerlukan kesiapan siapa saja yang terlibat; mereka harus memiliki bekal informasi yang luas dan kemampuan analisis yang memadai, di samping dosen yang profesional. Kalau ini terpenuhi maka hasilnya luar biasa; dan AS ternyata mampu memenuhinya. Familiaritas sivitas akademika universitas di AS, sebagaimana dengan design studi Webomerics, antara lain ditunjukkan dengan sejauh mana mereka melakukan komunikasi akademis melalui berbagai situs yang ada yang di dalam studi ini adalah Google, Yahoo, MSN, dan Teoma. Mereka terbukti telah memanfaatkannya dengan baik dan lebih baik daripada dosen dan mahasiswa universitas non AS pada umumnya. Pemanfaatan internet secara baik oleh dosen dan mahasiswa universitas di AS tersebut tentu saja sangat positif dalam kaitannya membentuk kinerja universitas di AS itu sendiri; namun di sisi lain hal itu telah menyebabkan kesenjangan akademis yang semakin menganga di antara universitas AS dengan non AS. Ibaratnya para mahasiswa AS dengan lari dapat memetik pengetahuan apa saja yang ada di depannya, sementara mahasiswa non AS hanya dapat memandang kesempatan seperti itu, bahkan ada yang tidak tahu dengan kesempatan yang ada di depannya. Masih Konvensional Bagaimanakah dengan universitas-universitas di Indonesia? Kalau kita telusuri sampai dengan ranking ke-250 tidak satu pun universitas kita ada di dalamnya. Hal itu menunjukkan bahwa dosen dan mahasiswa kita tidak akrab dengan internet dalam mengembangkan kemampuan akademisnya. Secara umum universitas kita masih konvensional, belum memanfaatkan teknologi informasi untuk memantapkan kinerjanya. Di sisi lain dalam daftar 250 universitas terbaik dunia terdapat beberapa nama dari negara berkembang; katakanlah University Nacional Autonoma de Mexico (Mexico) di ranking ke-110, Hebrew University of Jerusalem (Israel) ke-145, University Complutense Madrid (Spain) ke-147, Beijing University (Cina) ke-206, University of Chile (Chile) ke-230, Chinese University of Hongkong (Hongkong) ke-238, dsb. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat aksesabilitas dan familiaritas dosen dan mahasiswa Indonesia terhadap internet jauh lebih rendah daripada dosen dan mahasiswa di negara berkembang pada umumnya. Keadaan tersebut di atas sudah barang tentu sangat memprihatinkan kita semua. Kalau pun toh kita harus kalah dalam berteknologi informasi dari negara-negara informasi (information countries) seperti AS kiranya dapatlah dimaklumi, meski dengan berat hati, namun kalau kita harus kalah dengan negara-negara berkembang lainnya seperti Mexico, Spanyol, Chili, dsb, rasanya memang sangat sulit untuk dimengerti. Mengejar AS dalam waktu singkat jelas tak mungkin. Agar UI Jakarta menyamai Harvard University, UGM Yogyakarta menyamai University of California Berkeley, ITB Bandung menyamai Massachusetts Institute of Technology, dsb, diperlukan waktu belasan bahkan puluhan tahun. Untuk dapat menyamai universitas di AS yang sangat familiar dengan teknologi informasi tidak saja semangat yang diperlukan, akan tetapi perlu dukungan dana untuk membangun infrastruktur lembaga serta kesadaran untuk mewujudkan suprastrukturnya. Meskipun demikian kita tidak boleh patah semangat kalau kesenjangan akademis yang terjadi tidak ingin lebih menganga lagi. Caranya sederhana meski perlu waktu, yaitu segera merealisasi pembelajaran didasarkan pada informasi yang diperoleh dari internet. Nah…, bagaimana GKM IBS menurut anda ??

oleh : Prof Dr Ki Supriyoko MPd, Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private Organization (PAPE) bermarkas di Tokyo, Jepang

 Sumber: Kedaulatan Rakyat

GKM e-Learning Business Program

Thursday, February 8th, 2007

That’s an easy way to learn business…!!

Now, e-Learning has become the educational trend in last two years. This fact has shown that students need business information, national economic growth, private coaching, flexibility time. Peer’s discussion forum has become a very important need among students and lecturers. Why? This educational method can be done anywhere and anytime they want. This program is meaningful and enjoyful because the student do not only get the material routinely but also be able to consult and/or make discussion with their lecturers.
gkmibs.com was the first and the only online business learning program that focuses on business education based on competence, helping students to launch their own business(es) and make their own cash generating machines. gkmibs.com was opened on January 28, 2007 by Mr. Rudy Gunawan-the owner of gkmibs.com. People who are interested to learn business and seek to grow their business(es) are very interested and enthusiastic about the site and its facilities.
The Entrepreneurship Mastery Program proves that sophisticated technology is the tool and people are the key. Both of these factors are needed to explore the capabilities of students. That’s why education is a strong factor to build a solid financial foundation. This online business school contains private mentoring, chat room for the students and lecturers (private/public), business forum, business discussion, international business materials standard that are given every 2 months routinely-including 150 original “best practices” essays written by business practitioners and leaders. This materials also provide over 100 management checklists, action lists, procedures for coaching, writing job descriptions and starting a small business.

This program is the simple and smart way to start your own business. It contains 12 systematic steps that is practical and comprehensive. What an incredible way..!!!!
Do you feel challenged to join us ?

Posted by dewi_kumalasari@gkmibs.com

Kalimat Bijak Yang Berbunyi ‘ENTREPRENEUR’

Thursday, February 8th, 2007

“Entrepreneur itu sejenis makanan baru yah?” Itu suatu kalimat yang pernah saya ucapkan (secara bercanda tentunya) kepada orang yang mengajak saya untuk memulai membangun bisnis waktu itu. Kata ENTREPRENEUR sendiri merupakan kata yang benar-benar asing di telinga saya 2 tahun sebelumnya. Maklumlah waktu itu saya masih bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta sebagai ‘Manager Accounting’. Kehidupan saya sangat monoton, diawali dengan bangun pagi, pergi ke kantor (jarak dari rumah ke kantor sangat jauh), kerja dari pagi sampai sore, pulang ke rumah (kalau saya tidak pergi ke coffee shop untuk hang out dengan teman). Jangan sampai dilupakan kadang kala saya juga dapat “Bonus” dari atasan. Dari Senin sampai Jumat  saya sudah seperti robot. Hari yang saya tunggu itu pasti hari Sabtu dan Minggu dimana saya bisa bersosialisasi dengan teman alias ‘CLUBBING’ dan yang paling ditunggu-tunggu (oleh semua karyawan) adalah GAJIAN. Itulah nasib kebanyakan karyawan.
Sampai akhirnya saya diperkenalkan dgn kata ‘ENTREPRENEUR’. Awalnya saya juga tidak mengerti apa yang harus saya lakukan untuk menjadi Pengusaha. Seorang teman saya berkata  pertama-tama yang harus dilakukan adalah mengubah STRUKTUR BERPIKIR. Waktu itu saya langsung naik darah apa yang salah dengan struktur berpikir saya? Lalu saya diberi satu buku Best Seller “Rich Dad Poor Dad“ karangan Rober T Kiyosaki dimana di dalam buku itu dijelaskan bahwa kita harus pindah kuadran dari kuadran Employee (karyawan) ke Business Owner (Pengusaha). Di situ jelas sekali dituliskan bahwa kita harus mengubah struktur berpikir dari karyawan menjadi struktur berpikir seorang pengusaha. Memang mudah dibicarakan tapi sulit sekali untuk dilakukan, terutama oleh orang yang sudah terbentuk ‘MINDSET’nya sebagai karyawan, dimana kita sudah terbiasa untuk diperintahkan oleh atasan kita baru jalan. Sedangkan Pengusaha harus mempunyai kemampuan untuk memimpin diri sendiri karena atasan kita adalah diri kita sendiri. Manusia membutuhkan waktu untuk bisa berubah. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berubah? Jawabannya adalah selama manusia itu hidup selama manusia itu mau belajar berubah. Di dalam merubah diri, kita membutuhkan orang lain atau lingkungan pendukung yang mendorong kita berubah kearah yang kita inginkan.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca satu artikel di Warta Ekonomi dengan judul  ‘Solusi Jitu Buat Calon Entrepreneur’ . Di dalam artikel itu dibahas mengenai bisnis MLM bisa menjadi salah satu alternative pembelajaran orang menjadi entrepreneur. Biasanya orang yang mengambil bisnis MLM sebagai usahanya dikarenakan beberapa alasan, diantaranya adalah soal dana dan waktu. Kalau soal dana tidak bisa dipungkiri karena dengan bergabung pada salah satu perusahaan MLM para pengusaha pemula bisa menjalankan usahanya dengan modal yang relative kecil. Saya tidak mengatakan tidak perlu modal, karena bisnis apapun harus ada modal. Dan banyak saya jumpai di masyarakat yang mengatakan ikut MLM A  atau MLM B tidak perlu jualan atau Selling hanya merekruit anggota atau bisa disebut money game. Saya rasa itu pembohongan besar karena mana ada bisnis yang tidak menjual, bagaimana bisnis itu bisa menghasilkan kalau tidak menjual produk/jasa. Kalau soal waktu biasanya orang memilih MLM karena bisa dikerjakan paruh waktu. Menjadi Pengusaha bukan hanya dilihat dari bagaimana kita mendirikan bisnis tapi bagaimana menghadapi masa-masa sulit dan mempertahankan bisnis kita.
Dalam GKM INTERNATIONAL BUSINESS SCHOOL kita diajarkan bagaimana  menjadi pengusaha. Karena di SEKOLAH BISNIS INI, kurikulumnya berbasis kompetensi, jadi selain ada materi kelas  yang berkesinambungan, dimana kita meningkatkan kemampuan kognitif kita, setelah itu kita pun diajarkan bagaimana MEMBANGUN PERUSAHAAN kita sendiri yang baik dan benar. Hal-hal inilah yang membuat kita menjadi pengusaha sejati.  Banyak sekali contoh yang saya lihat di GKM INTERNATIONAL BUSINESS SCHOOL dimana seseorang bisa berubah menjadi lebih baik karena adanya pendidikan bisnis sekaligus pembangunan karakter dan struktur berpikir. Karena di sinilah kita bisa menggali potensi yang sebetulnya ada di dalam diri kita tapi karena ketidaktahuan kita potensi itu terkubur dalam-dalam. 
Sekarang pertanyaannya adalah maukah kita belajar untuk menjadi pengusaha? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing. Karena walaupun kita mempunyai sistim pendidikan yang terbaik di seluruh duniapun kalau dari diri sendiri tidak mau belajar maka semuanya adalah sia-sia.
Renny KD, SE, Mahasiswa GKM IBS, email :  eny_ope@gkmibs.com

BELAJAR MELANGKAH KE DUNIA WIRAUSAHA

Sunday, January 28th, 2007

Hampir setiap hari saya mendengar dan melihat kesusahan teman-teman kita diluar sana  sana karena kesulitan-kesulitan hidup setiap hari, kadang ada orang begitu bersusah payah pontang panting mengejar sesuatu untuk hidup. Begitu pula saya yang masih bekerja disebuah perusahaan yang boleh dibilang perusahaan  minyak nasional dan kalau dilihat orang pasti berkata, “wah enak yaa kerja di perusahaan itu …… pasti gajinya besar” tapi kebutuhan hidup tetap menghantui terus menerus.
Pada usia saya yang masih muda sekitar 30 an, saya berfikir “bagaimana saya bisa mendirikan usaha walaupun kecil-kecilan” tapi kan harus punya modal besar, terus kalau usaha saya berhasil kalau tidak…..wah resiko itu yg masih membanyangi saya…
Hingga akhir saya dipertemukan oleh seorang teman dan diperkenalkan sebuah sekolah bisnis berbasis kompetensi . What GKM IBS ? gelap seperti hutan belantara, tapi tak apalah seperti saya pertama kali diperkenalkan dengan yang namanya computer…makluk apalagi itu….
Saya coba pasang telinga pasang mata  untuk diperkenalkan yang namanya ‘Enterpreneurship’ ( kewirausahaan ).
Hari demi hari kami diajarkan yang namanya bisnis sampai perhitungan, bagaimana membangun ‘assets’ ( kekayaan ) tapi terus terang saya tidak bisa menjual, karena memang saya mempunyai mental pekerja bukan sebagai usahawan.
Pada akhirnya saya menganggap bahwa mungkin dengan sekolah, saya bisa belajar membangun bisnis saya dengan benar.  Materi sekolah yang diajarkan sangat luar biasa….sehingga pola pikir saya lebih terbuka dan pelajaran mengenai kehidupan yang juga memberikan sebuah wawasan baru.
Bayangkan dengan biaya kuliah yang murah bahkan saya mendapatkan beasiswa serta ilmu yang sangat mahal itu diberikan kepada siswa-siswanya dengan cara yang sangat menarik, unik dan tidak membosankan
Bayangkan pula kalau ada orang-orang yang seperti mentor saya lebih dari 1000 orang yang baik hati memberikan ilmu kepada kita, artinya betapa banyak orang-orang indonesia yang akan terangkat kehidupannya.
Sekolah ini adalah sekolah berbasis kompetensi artinya ’learning by doing’, semuanya serba teratur baik disiplin, keuangan, struktur pikir, tingkah laku, spiritual, kecerdasan emosional semuanya diajarkan menjadi satu paket (7 area kehidupan).
Dan alhamdulilah di bulan ketiga saya sudah bisa membeli asset bergerak kendaraan motor honda kharisma 125 CC tahun 2005.hasil dari perusahaan uji kompetensi kami di Sekolah GKM IBS.
Sudah hampir 1,5 tahun saya mengikuti kurikulum di kampus tercinta, begitu banyak ilmu yang saya dapatkan, dan seiring perkembangan teknologi IT di dunia pendidikan, ternyata GKM IBS memulai gebrakan yang sangat luar biasa dengan membangun sebuah situs website GKMIBS dengan berwawasan Nasional dan International yang namanya www.gkmibs.com.
Bayangkan saat belum dilaunching yang mengakses situs ini hampir 14.000 orang sampai malam ini tgl 27 jam 21.00 wib, artinya 3000 orang setiap hari membukan akses website ini.
Kami berharap informasi sekolah bisnis GKM IBS dan sekolah pertama yang mengajarkan dasar-dasar membangun bisnis yang benar termasuk bisnis MLM di Indonesia bisa memberikan wacana baru didalam dunia pendidikan maupun dalam dunia bisnis. Dan juga memberikan kontribusinya yang besar kepada perekonomian bangsa indonesia, sehingga kita bisa berdiri sejajar dengan negara-negara maju baik dunia pendidikan maupun dunia perekonomian.
Selamat GKM IBS kami angkat topi dan rasa hormat yang setinggi-tingginya, dan mentor yang sangat luar biasa yang mempunyai ide yang sangat brilian.
Maju terus pantang mundur kita majukan bangsa Indonesia demi rakyat dan segenap tanah tumpah darahku.
 

Sekilas dengan gamal@gkmibs.com

Selamat Datang Di Dunia Wirausaha

Sunday, January 28th, 2007

Jakarta, 28 Januari 2007

Ketika seseorang mendengar kata “Bisnis”, maka apakah kira-kira tanggapan atau bayangan yang akan muncul di benaknya?  Ada yang membayangkan bahwa berbisnis itu sulit, bukan bakatnya, apalagi dalam kondisi sekarang.  Ada yang membayangkan bahwa berbisnis itu bukanlah suatu pekerjaan yang aman, karena tidak ada pendapatan yang tetap.  Ada juga yang tidak terbayangkan karena bingung harus memulai dari mana dan masih banyak lagi tanggapan-tanggapan spontan lainnya.
Sekarang ini sudah beribu-ribu majalah dan buku-buku yang berisi strategi bisnis dan kisah kesuksesan para pengusaha yang spektakuler dimana banyak diantara mereka yang berhasil mencapai kekayaan milyaran dollar pada usia yang relatif sangat muda.   Misalkan, nama-nama seperti Billgates ( Microsoft ), Eric Schmidt ( Google ), Chad Hurley dan Steve Chen ( You Tube ), Robin Li ( Baidu ), dan masih banyak yang lainnya.  Beberapa diantara mereka bukanlah seorang yang memiliki pendidikan formal yang sangat tinggi,  tetapi mereka punya kesamaan, yaitu : mempunyai keberanian, visi dan intuisi yang tinggi.
Saudara-saudara, menjadi pengusaha sangatlah menantang dan memilki kenikmatan tersendiri.  Untuk menjadi seorang pengusaha sukses yang dibutuhkan bukanlah bakat, modal besar, atau pendidikan formal, yang seringkali menjadi bayangan dalam diri seseorang.  Tetapi sebenarnya modalnya sangat sederhana, dan setiap orang memilikinya di dalam diri masing-masing, yaitu : keberanian dan hasrat yang kuat untuk berani memulai.  Untuk mulai menjadi pengusaha, memang dibutuhkan apa yang kita sebut ‘supporting enviroment’ ( lingkungan pendukung ).  Dalam bahasa inggris akhiran ‘ing’ menunjukan sebuah pekerjaan yang sedang dilakukan, maksud dari kalimat ‘supporting enviroment’, adalah sebuah komunitas yang secara terus menerus memberikan dukungan kepada kita untuk tetap fokus dan konsisten membangun usaha serta meningkatkan kapasitas diri atau perusahaan.  Nah, seringkali inilah hal yang sangat sederhana, tetapi sering terabaikan dan tidak dibangun sejak awal oleh seseorang yang sedang membangun usahanya. 
Di dalam bidang ekonomi ada istilah ‘Intagible assets’ dan ‘Tangible assets’Intangible assets artinya kekayaan / hal–hal yang tidak terlihat,seperti : keberanian, kejujuran, kepercayaan, hasrat, intelektual, semangat, jaringan / relasi, dan lain-lain.  Sedangkan Tangible assets artinya kekayaan / hal-hal yang dapat dilihat, seperti : uang, tempat usaha, barang / produk, dan lain-lain.  Dari hal-hal yang dijabarkan diatas, menurut anda, mana yang harus dimiliki lebih banyak oleh seorang pengusaha atau calon pengusaha ? sudah jelas jawabannya, yaitu ‘Intangible assets’ dimana didalam diri kita sebenarnya sudah ada, hanya mungkin beberapa diantara kita belum menyadarinya atau mungkin belum mengerti kalau sudah memilikinya.
Beberapa faktor yang sudah dijabarkan diatas dapat dijadikan sebagai sebuah informasi yang mampu menginspirasi para pembaca sekalian bahwa untuk memulai sebuah profesi yang kita sebut ‘wirausaha’ tidaklah dibutuhkan sesuatu yang terlalu mahal, atau sesuatu yang terlalu besar sehingga tidak banyak orang yang mampu melakukannya, sekali lagi bukan itu.  Tetapi yang dibutuhkan hanyalah sebuah hal yang sederhana, setiap orang memiliki dan dapat dikembangkan, yaitu keinginan untuk meningkatkan kapasitas diri ( aktualisasi diri ) dan keberanian untuk memulai !  Selamat datang di dunia wirausaha.